oleh

Gendu Rasa, Sebagai Perwujudan Sinergitas Pendeta Gilbert Lumoindong dan Para Santri

Pekalongan – Seperti kita ketahui bersama, Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari puluhan ribu keberagaman yang terangkum dan mewarnai Negara kita ini. Puluhan ribu seni, budaya, hingga dalam hal Agama serta Aliran Kepercayaan pun ada di Negara kita.

 

Semua itu tidak lain adalah hasil dari perjuangan para pendahulu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tokoh Kerajaan, hingga Tokoh Pahlawan Nasional pun rela hancur lebur menyisakan sebuah Negara yang kita tinggali saat ini.

Hal inilah yang tampak sangat terlihat dalam pertemuan hangat antara Pendeta Gilbert Lumoindong, dengan para Santri di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, baru baru ini.

 

Sosok Pendeta yang teramat sangat kharismatik di NKRI ini tampak akrab dengan para Santri yang dikunjunginya.
Tak hanya sekali berkunjung, Pendeta Gilbert juga telah berulang kali berkunjung, bersendagurau bersama para santri di lingkungan Kanzus Sholawat Kota Pekalongan.

Seperti yang kita ketahui. Kanzus Sholawat Kota Pekalongan dipimpin langsung oleh Habib sejuta umat dan menjadi satu satunya Habib yang dipercaya mendampingi President Joko Widodo dan kini kembali mendampingi President Prabowo Subianto.

 

Betul Sekali.
Habib Lutfhi bin Yahya.
Habib yang juga Kharismatik dan tidak diragukan lagi keTokohannya menjadi tujuan utama dari kunjungan Pendeta Gilbert ke Kota Pekalongan.

 

Selain bertemu sang Habib, Pendeta Gilbert Lumoindong juga bertemu murid dari Habib Lutfhi bin Yahya yakni Gus Nif.

Tak hanya itu, pertemuan penuh kehangatan tanpa batasan tersebut juga dihadiri oleh para santri pimpinan Gus Nif.

Seperti salah seorang Santri Fenomenal yang akrab disapa Boim Jamas.

Tak diragukan lagi, obrolan demi obrolan pun dibahas disaat pertemuan itu. Obrolan demi obrolan yang mengarah kepada Persatuan dan Kesatuan NKRI ini menjadi topik hangat perbincangan mereka disela sela kunjungannya.

Dikatakan oleh sang santri fenomenal, Boim Jamas, kedatangan Pendeta Gilbert Lumoindong menjadi Realisasi “Bhinneka Tunggal Ika” yakni Berbeda Beda Tetapi Tetap Satu.

“Walaupun dengan latar belakang, Agama, Kepercayaan berbeda. Beliau (Pendeta Gilbert Lumoindong.red), tak segan segan berkunjung ke Kanzus Sholawat. Selain mempererat tali silaturahmi, kunjungan Beliau juga menjadi salah satu tukar pendapat antara para santri dan Beliau.”, ungkap Boim Jamas.

Tak hanya seputar ekonomi, Budaya, Adat Istiadat, Norma yang ada. Obrolan penuh canda tawa itu juga membahas kehidupan usia remaja saat ini. Minuman keras, Obat Terlarang, hingga soal tindakan yang mengarah pada hal tidak terpuji.

“Seni Budaya, Norma, Adat Istiadat, Agama, hingga soal Kehidupan para remaja yang akhir akhir ini semakin memprihatinkan. Narkoba, Alkohol, hingga dalam hal pergaulan bebas yang berujung pada kriminalitas seperti Genk Motor. Itulah topik yang jadi bahan obrolan kami.”, imbuh Boim.

Perbedaan usia, sudut pandang, Agama, dan lainnya pun melebur menjadi satu manakala Pendeta Gilbert menyampaikan pendapat serta fakta dan juga kenyataan yang terjadi didalam kehidupan saat ini.

Momen perjumpaan yang langka dan belum tentu bisa setiap hari dijumpai itupun diakhiri dengan doa bersama demi mewujudkan NKRI yang Lebih Baik Lagi.

 

(Dentang)

Komentar