Pentas Wayang Kulit Di Kawasan SRG Dan Pabrik AMP PT. Aneka Usaha Kabupaten Pemalang, Diwarnai Kejadian Tak Terduga
Pemalang – Melestarikan dan memelihara kesenian tradisional, sudah menjadi salah satu kewajiban kita bersama tanpa terkecuali. Selain untuk sumber sejarah, kesenian tradisional juga sebagai sarana dan prasarana kita semua dalam mengingat kembali jalan cerita dari kesenian tersebut.

Pentas Seni Wayang Kulit, misalnya. Beragam cerita masa lampau dimainkan kembali untuk mengingatkan sejarah cerita masalalu dalam dunia nyata maupun dunia pewayangan itu sendiri. Selain itu, wayang kulit juga dijadikan salah satu pengisi kegiatan yang sengaja ditujukan untuk menghibur dalam acara hajatan, selamatan, maupun peresmian suatu tempat atau bangunan.
Hal itulah yang tampak di kawasan SRG (Sistem Resi Gudang.red), dan Ashpalt Mixing Plant (AMP.red), Desa Surajaya, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, (28/10/2021).
Pentas wayang kulit yang diselenggarakan dengan kesan mewah ini, awalnya berjalan sebagaimana mestinya. Namun selang beberapa waktu, kejadian tak terduga menghampiri kegiatan itu.
Siapa sangka, Lampu sorot yang mengarah ke posisi “Pak Dalang” dan para wayang, serta Sound System yang merupakan perantara suksesnya pagelaran wayang kulit itu, tampak mengalami “Gangguan“.
Entah karena “Kurang Sesaji” atau faktor “Kualat Pada Anak Yatim Piatu”, jadi tanda tanya besar yang jadi _Buah Bibir_ utama diantara penonton yang berasal dari berbagai latar belakang kehidupan.
Kurangnya sesaji di lokasi, menjadi buah bibir para penonton yang berasal dari kawasan sekitar tempat pentas seni wayang kulit.
“Terhambatnya pentas wayang kulit ini mungkin karena kurang sesaji singkong bakar, karena Damnyang penunggu disini, suka sekali disuguhi itu.”, Ungkap seorang warga.
Sementara itu, sekira tiga puluh menit sebelum kejadian tersebut.
Perkataan yang kurang mengenakkan didengar dalam sanubari, dilontarkan oleh seorang OKNUM yang diduga ikut dalam kepanitiaan acara tersebut.
“Makanan dan minuman ini buat undangan. Iya mereka tamu undangan apa bukan?”, Ungkap Oknum tersebut.
Merasa dirinya yang dimandatkan oleh Turitno, Selaku Kepala Desa Pegongsoran, Dentang Harya Sutawijaya pun mengambilkan suguhan berupa teh hangat, wedang jahe dan box berisi jajan yang ada di meja untuk nya, anggota Polsek Pemalang, serta anggota Koramil 01 Kodim 0711 Pemalang. Akan tetapi justru seakan dituduh mengambil makan untuk diri sendiri.
“Pak Kades minta tolong ke saya untuk memberikan suguhan berupa minuman hangat dan jajan untuk anggota Polsek Pemalang Polres Pemalang dan anggota Koramil 01 Kodim 0711 Pemalang. Eh lha kok dibilang begitu oleh oknum itu. Itu kan sama saja menuduh saya ambil makanan dan minuman untuk dibawa pulang toh?”, Terang Dentang Harya Sutawijaya yang juga pewarta www.gerhanaonline.net
Nada dan Gaya bahasa yang diluar logika tanpa Unggah Ungguh tata krama Budaya Jawa ini terlihat jelas dengan penuh kesadaran dilontarkan oleh Oknum tersebut tanpa melihat situasi, kondisi, toleransi, pandangan, dan jangkauan.
Bagaimana tidak, Oknum yang diduga Panitia rangkaian acara peresmian SRG dan AMP di kawasan PT. Aneka Usaha Kabupaten Pemalang, justru tidak menunjukkan seorang insan yang “Njawani“. Asal keluarkan kata kata tanpa melihat resiko hasil dari perkataannya itu.
Ketika ditanya tentang peristiwa tersebut, Turitno, Kepala Desa Pegongsoran, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah., Mengatakan, Dirinya emang memberikan mandat atau minta tolong ke saudara Dentang, untuk mengambilkan suguhan bagi anggota Polsek Pemalang dan Koramil 01 Kodim 0711 Pemalang.
“Saya minta tolong ke mas Dentang untuk mengambilkan makanan ringan (jajan.red), dan minuman itu ya buat Anggota Polsek Pemalang dan Anggota Koramil 01/0711 Pemalang. Ya kecewa kaget saja manakala mas Dentang bicara seperti itu jika dirinya diomong begitu oleh OKNUM. apa iya kami harus pakai Undangan baru kami diijinkan masuk? Sebarusnya, sebagai panitia”,jelas Kepala Desa Pegongsoran.
Bagaikan petir di malam hari yang melaju teramat sangat cepat.
Tak sampai 1 jam, kejadian tak terduga tentang matinya Lampu soro serta sound sytem yang menampilkan suara sang dalang dan nada irama lagu pada sound sytem pengiringnya mengalami kerusakan cukup berat hingga harus diperbaiki oleh beberapa orang teknisi.
Ketika ditanya soal kejadian itu, Dentang Harya Sutawijaya, dirinya menambahkan jika perasaan, hati, jiwa, raga nya sakit dan kecewa pada oknum tersebut.
“Saya sudah biasa bermain dengan Makhluk Astral, dan memang benar jika sesajinya kurang. Lha kok kebetulan juga, Oknum itu bikin saya sakit hati. Yo otomatis Mbah Damnyang nya saya panggil untuk bermain disitu. Tuh buktinya setelah perbuatan oknum, ada kejadian tak terduga. Giliran saya tabur atau sebarkan Garam keliling tenda acara dengan ditemani anggota Koramil 01 Kodim 0711 Pemalang. Eh tak lama, semuanya Normal dan acara berlanjut lagi. Malah saya ikut makan buah Duren di luar tenda. Oala, lha saya biasa mainan SANTET kok. Ya Guampang lah saya panggil para penunggu disitu.”, Tuturnya.
Tak lama berselang setelah Oknum tersebut melontarkan kata kata “Nyleneh” itu, pemandangan kurang mengenakkan justru tampak manakala dia bersama sesosok wanita, duduk berdua berdampingan dan tampak Gamblang terlihat “Mesra” tanpa melihat situasi, kondisi, toleransi, pandangan, serta jangkauan yang ada. Tidak seperti panitia, maupun pengunjung lainnya, Oknum tersebut seakan benqr benar merealisasikan ungkapan “Dunia Milik Kita Berdua, Dek”.
(Indra Mano)

































Komentar