Peran Ibu di Saat Pandemi Dalam Hari Pekan Menyusui Sedunia Untuk Perlindungan Anak
Pemalang, Jateng (12/08/2021)- Bulan Agustus adalah bulan yang telah dideklarasikan oleh Word Health Organization (WHO) setelah melalui proses perjalanan panjang melibatkan berbagai tokoh-tokoh populer dan pejabat pemerintahan dari 120 negara yang telah mencatat keterlibatan mereka di berbagai melalui berbagai kegiatan seminar seminar, forum- forum publik di berbagai media cetak , tv maupun online . Sebagai bulan yang ditetapkan menjadi pekan menyusui sedunia yang dikenal dengan World Breasrfeeding Week (WBH), dimana WBH dilaksanakan setiap tanggal 1 sampai 7 agustus merupakan momen yang diselenggarakan untuk mendorong pemberian ASI dan meningkatkan kesehatan bayi di seluruh dunia.
Seiring dengan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia, WHO, UNICEF, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menganjurkan vaksin untuk ibu menyusui. Ibu yang sudah divaksinasi juga disarankan agar meneruskan menyusui untuk melindungi bayi.
Bagi bayi dan balita, ASI adalah sumber gizi yang terbaik dan sudah terbukti keampuhannya dalam menyelamatkan kehidupan. ASI membantu melindungi anak dari berbagai penyakit yang banyak dialami anak-anak, seperti diare dan pneumonia. Selain itu, telah diketahui pula anak yang mendapatkan ASI memperlihatkan hasil tes kecerdasan yang lebih baik, memiliki kemungkinan mengalami obesitas atau berat badan berlebih yang lebih rendah, dan tidak rentan mengalami penyakit-penyakit tidak menular di masa dewasa.
Peningkatan pemberian ASI secara global berpotensi menyelamatkan lebih dari 820.000 nyawa dan mencegah pertambahan sebanyak 20.000 kasus kanker payudara pada perempuan setiap tahunnya.
“Pemberian ASI memiliki beragam manfaat kesehatan, sosial, dan ekonomi baik bagi anak maupun ibu,” ujar Perwakilan UNICEF Indonesia Debora Comini. “Saat ini, dukungan terhadap ibu menyusui sangat dibutuhkan agar ibu dapat memberikan anak-anaknya awal yang terbaik dalam hidup mereka. Untuk itu, kita harus pastikan semua ibu menyusui menerima vaksin COVID-19 agar mereka terlindung dari virus korona sehingga mampu mengasuh dan merawat anaknya.”
Pada masa sebelum pandemi pun, hanya 1 dari 2 bayi berusia di bawah enam bulan yang menerima ASI eksklusif di Indonesia, dengan median durasi pemberian ASI eksklusif hanya selama tiga bulan. Pada usia 12 bulan dan 23 bulan, bayi yang masih menerima ASI masing-masing adalah tiga perempat dan sedikit di atas separuh dari seluruh populasi bayi. Kini, pandemi membawa sejumlah tantangan baru bagi para ibu—tidak hanya kekhawatiran perihal keamanan menyusui di masa pandemi, tetapi pembatasan sosial menyebabkan semakin sulitnya mendapatkan dukungan untuk ibu menyusui.
Selain itu, mengingat sistem kesehatan Indonesia saat ini difokuskan untuk penanggulangan krisis COVID-19, layanan konseling dan dukungan dari konselor terlatih bagi ibu menyusui turut terkendala. Menurut survei nasional yang dilakukan oleh Kemenkes RI dengan dukungan UNICEF, konseling menyusui di masa pandemi hanya menjangkau kurang dari 50 persen ibu dan pengasuh anak berusia di bawah dua tahun. Situasi ini diperparah oleh tingginya pelanggaran Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI.
“Semua pihak bertanggung jawab melindungi dan mendukung para ibu untuk memberikan ASI kepada anak-anaknya,” kata Perwakilan WHO Indonesia Dr N. Paranietharan. “Pemberian ASI yang optimal sangat penting karena merupakan salah satu cara paling efektif untuk memastikan kesehatan dan keberlangsungan hidup anak.”
Mengingat manfaat ASI yang luar biasa, ibu yang terkonfirmasi atau diduga tertular COVID-19 dan sedang menjalani isolasi mandiri di rumah dianjurkan melanjutkan pemberian ASI dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pemberian ASI juga sebaiknya dilanjutkan bagi anak yang diduga atau terkonfirmasi tertular COVID-19.
Merayakan Pekan Menyusui Sedunia, WHO dan UNICEF mengajak Pemerintah, mitra, dan anggota masyarakat untuk:
-Memastikan agar ibu menyusui menerima vaksin COVID-19 dan ibu didorong agar tetap menyusui setelah vaksinasi,
-Memastikan ketersediaan konseling menyusui untuk semua ibu dan pengasuh dari anak berusia di bawah dua tahun, baik secara tatap muka maupun melalui sarana digital.
-Menguatkan implementasi dan pemantauan penerapan Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI untuk melindungi ibu dari pemasaran produk pengganti ASI yang tidak etis.
-Memastikan perlindungan dan dukungan untuk ibu agar melanjutkan pemberian ASI, lepas dari status COVID-19 dari ibu dan anak Pada kondisi ibu dengan COVID-19 namun tetap ingin menyusui bayinya, wajib menerapkan hal berikut:
Gunakan masker ketika menyusui
Cuci tangan sebelum dan setelah sentuh bayi. Rutin bersihkan permukaan yang disentuh dengan disinfektan
Menerapkan etika batuk dan bersin
Jika ibu PDP/ODP/Positif COVID-19 atau memiliki penyakit yang menghalangi saat merawat bayi, hindari menyusui secara langsung dianjurkan:
Memompa ASI / ASI perah
Mendapatkan donor ASI
Relaktasi
Minta bantuan orang lain yang sehat untuk beri ASI perahan pada bayi secara benar. Tidak dianjurkan memberikan susu selain ASI pada bayi.
Penulis : Ojin
Sumber : Dirangkum dari Kemenkes RI , World Health Organization (WHO), Kompas.com

































Komentar