oleh

KH. Habib Abu Djibril Basyaiban Hadiri Dzikrul Ghofilin Pada Pembukaan Pesantren Siti Dhumilah, Isi Tausiyahnya Mengharukan

Cijeruk Bogor, –  Pembina Pesantren Republik Indonesia Habib Abu djibril Basyaiban menghadiri iftitah (pembukaan) pesantren Siti Dhumillah Cijeruk Bogor, Kamis (10/9/20).

Acara di mulai dengan pembacaan wirid Dzikrul Ghofilin yang di pimpin langsung oleh Khodimul Ma’had Al-ustadz Ahid Sibli. Rencana Dzikrul Ghofilin ini akan diadakan rutin setiap malam Jum’at keliwon di Pesantren tersebut.

Masyarakat sekitar menyambut dengan sangat antusias. Acara tersebut dihadiri oleh para tokoh Masyarakat Cijeruk Bogor dan sekitarnya di antaranya KH. Afif Tamam dan salah satu tokoh Cijeruk dan juga di hadiri KH. M. Ali Ghozi Perwakilan Departemen Agama pusat.

Meski menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan dengan sabun dan selalu pakai masker namun tidak mengurangi rasa khidmad para pengunjung.

Ustadz Ahid sibli menuturkan Pesantren Siti Dhumillah ini di buka gratis tidak di pungut biaya makan minum belajar semuanya digratiskan, harapannya adalah anak-anak yang dididik akan menjadi penerus putra putri Bangsa Indonesia yang bermanhaj Ahli Sunnah Wal jamaah Annahdliyah.

Dalam acara tersebut tausiyah diisi Oleh Pembina Pesantren RI Habib Abu Djibril Basyaiban, dalam tausiyahnya dia menyampaikan, semoga Pesantren yang di buka malam hari ini akan menjadi Pesantren yang bisa melahirkan generasi-generasi mutiara Nusantara, karena menurut dia, di Nusantara ini banyak sekali melahirkan Ulama’-ulama’ hebat diantaranya beliau yang menyusun Wirid Dzikrul Ghofilin itu sendiri Beliau Adalah KH. Hamim Djazuli.

Salah satu pengasuh Pesantren Alfalah Ploso Mojo Kediri atau yang lebih di kenal dengan sebutan Gus Miek, beliau adalah Ulama yang jarang kita temui, beliau berdakwah betul betul dengan kasih sayang dan pendekatan, beliau tidak pernah memandang rendah kepada siapapun bahkan tidak sedikit orang-orang insaf bertobat berkat dari wasilah beliau, beliau berdakwah di tempat yang mungkin orang lain menganggap kotor dan hina seperti lokalisasi misalnya beliau datangi tanpa membuat gaduh akan tetapi penghuninya bisa insyaf dan tempat tempat maksiat bisa tutup dengan sukarela tanpa demo, penghuni lokalisasi tersebut diberikan jalan keluar oleh Gus Miek, dengan memberikan modal usaha dan di berikan lapangan pekerjaan untuk mendapatkan hasil yang halal dan di carikan suami yang bisa membina menuju akhirat, akhirnya pelaku-pelaku maksiat insyaf tobat tanpa di paksa.

Itulah cara Gus Miek berdakwah tanpa kekerasan, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh semua orang berwawasan luas, etika dan tata krama yang baik dengan ilmu juga harta yang beliau berikan bahkan bukti kewaliannya Gus miek, dia di cintai oleh jutaan ummat ketika beliau wafat tahun 1993 silam.

Bagaikan lautan jumlah manusia ketika itu, jarak antara Ndalem beliau (rumah.red) dengan tempat peristirahatan terakhirnya sekitar tujuh kilo meter jauhnya, jalan itu di penuhi oleh manusia, yang hadir dalam prosesi pemakaman tersebut bisa dikatakan semua  kalangan, mulai dari pejabat hingga gelandangan.

Sahabat dan handai taulan, serta muridnya yang terbilang banyak membuat para tamu menyembahyangkan  jenazah beliau hingga 99 kali, hal tersebut membuktikan bahwa betapa Gus Miek sangat di cintai banyak Ummat, dengan cara dakwahnya penuh rasa kasih sayang terhadap semua manusia.

Habib Abu Djibril Basyaiban juga menyampaikan Harapan saya Dzikrul Ghofilin ini akan terus istiqomah sebulan sekali di pesantren Siti Dhumillah dan semoga kita semua yang hadir maupun yang tidak hadir akan mendapat keberkahan dari para kekasih Allah SWT, dan semoga kita semua kelak akan di kumpulkan bersama para wali wali Allah dan semoga kita semua termasuk hamba yang akan mendapatkan syafa’at dari sayidul wujud rosululloh muhammad saw. Pungkas Habib Abu Djibril Basyaiban dalam tausiyahnya. (Red)

Komentar